Friday, at 9.58pm
Tersendu aku kala itu.
Tersedu pula aku karena itu.
Selesai sudah amarahku, retak sudah harapanku, dan hilang pula separuh hatiku.
Tak sadar dan tak faham, bagaimana rasanya kehilangan wanita terpenting dihidupmu.
Baru sadar, dan akhirnya faham, oh ternyata, begitu rasanya kehilangan wanita terpenting dihidupmu.
Mengakhiri, September terakhir.
20 September 2018.
Aku, selesai.
Selesai tertahan infus rumah sakit, dan tertahan untuk tidak makan McDonalds.
Iya, aku baru selesai dirawat. Dia, yang sekarang kurindukan, selalu ada disana. Kadang disamping, namun kadang juga tidak ada.
Aku faham, dia sibuk.
Aku mengerti, dia sibuk.
Dan, yang paling aku fahami dan aku mengerti, dia sibuk sampai letih dan terlihat tidak terlalu pulih.
Aku bilang, pulang saja, aku sudah besar.
Sudah terhitung 17x aku dirumah sakit dan selalu ditemani. Ini saatnya, yang ke 18, aku bisa sendiri, “udah gak takut, dokternya baik-baik!”
Itu kenapa, akhirnya dia tidak ada disampingku, iya, dia pulang, istirahat. Karena aku yakin, besok dia kembali datang.
21 September 2018.
Aku, menunggu didatangi.
Biasanya, setiap pukul 08.15 pagi, dia, yang sekarang kurindukan, sudah ada disampingku. Membangunkan untuk makan sarapan yang didatangi suster(jujur aku tidak terlalu suka, itu bukan nasi, tapi bubur, dan yang jelas, ga pake mecin).
Tapi, pagi itu aneh. Sudah sampai pukul 10.19, tidak ada yang membangunkan, sampai aku akhirnya bangun sendiri.
Bingung? Tentu.
Menunggu? Pasti.
Mencari? Sudah.
Whattsapp :
10.21 “Ibu dimana? Kok blm dateng?”
10.32 “Bu, dimana? Kalo blm jalan, nitip martabak telor ya, hari ini kan udah boleh pulang”
11.23 “Ibu lagi nyari martabak? Kalo engga ada, gausah..”
Sampai akhirnya, pukul 12.40, dia, yang sekarang kurindukan, masih juga belum sampai.
Terbuka pintu kamar rumah sakit, ada yang masuk, suster, bawa infusan. Dan, dia, yang sekarang kurindukan, duduk disana, lemas, pucat, dan tidak membawakan martabak.
Aku, kaget, bingung, dan tentu bertanya “Kok? Kenapa?”. Ayah jawab, “Ibu sakit.”
Aku selesai, dia, yang sekarang kurindukan, malah memulai. Memulai untuk dirawat, dan ini saatnya bergantian, aku yang menjaga, dia yang dijaga.
22 September 2018.
Awal kesedihan, mulai kudengar.
“Kak, nanti, kamu ya yang bantuin adek bikin PR. Bantuin adeknya.”
Iya. Itu, kalimat yang sampai sekarang masih aku harus pegang, dan selalu aku lakukan. Dia, yang sekarang kurindukan, menitipkan adik ku. Dan dari sini, semua cerita yang mungkin akan selalu aku benci bermula.
23 September 2018.
Tidur, makan, minum, selalu didekat dia.
Entah kenapa, sulit meninggalkan, sulit keluar dari ruang rumah sakit.
Terlalu rindu, dan susah lepas. Sampai kuliah pun ingin sekali dilepas dulu, supaya bisa selalu duduk disamping dia, dan tidak kemana mana.
“Kak, guntingin rambut dong. Biar sama, kaya kamu”
Begitu katanya. Dan saat ingin melakukan, ada saja yang melarang, hasilnya apa? Sampai sekarang, sudah tidak akan bisa dilakukan lagi.
24 September 2018.
Entah kenapa, makin sulit untuk beranjak kaki keluar rumah sakit. Menuju kampus, yang sebenarnya bakal banyak teman yang menghibur. Tapi sulit sekali menghibur diri, karena disini,s separuh hidupku sedang merasa sakit.
Tapi, dia, yang sekarang kurindukan, bilang begini. “Kuliah, jangan males. Sana, abis kuliah, kesini lagi”.
Mulai dari situ, kuliahku bukan membawa buku atau stabilo warna-warni, tetapi, bawa baju dan sikat gigi. Karena rasa ingin menetap disamping dia, lebih besar dibanding rasa ingin mempelajari filsafat dan psikodinamika.
25 September 2018.
Tak terlalu banyak kisah, tapi disini, entah kenapa, hati terasa sakit sekali. Karena dia, yang sekarang kurindukan, merasa sakit lebih dari hari sebelumnya. Kasur rumah sakit masih cukup lega untuk aku tiduri sebelah sisinya, aku diam disana, berusaha menahan air didalam mata supaya tidak turun. Percaya deh, itu lebih susah dari menahan tawa dikelas saat ada guru.
26 September 2018.
Masih kulihat dia tersenyum, bukan hanya tersenyum, masih sempat dia memarahi ku karna sudah tau batuk, tetapi aku tetap minum es kelapa. Lucu, haru, dan masih selalu ada dibenakku, hingga sekarang.
Berbicara masih sering, berbincang masih selalu, dan bersendu, mungkin itu hanya aku. Tidak perlu dia tau kalau dia aku tangisi, tidak perlu juga orang tau kalau aku sedang menangisi dia. Cukup aku, Tuhan, dan ruang rumah sakit yang melihat, dan sekarang, mungkin ditambah menjadi kalian yang membaca.
27 September 2018.
Dia bilang, senang katanya kalau banyak yang berdatangan, menanyakan kabar, mendoakan, dan mengharapkan lekas kembali bekerja karena banyak yang merindukan. Aku, yang mendengar, juga senang. Senang karena bukan aku saja yang khawatir, senang karena bukan aku saja yang menunggu dia cepat pulih, dan senang, bukan aku saja yang merindukan tegapnya dia saat berdiri. Jujur, aku rindu pertanyaan “Kak, lagi belajar apa?”.
28 September 2018.
Masih bimbang rasanya.
Harus pergi, atau tinggal.
Mantap hati merasa ingin tinggal, tapi dia, yang sekarang kurindukan, bilang begini “Udah gakpapa, masa mau ulang tahun depan? Sekarang aja.”
Baik, akhirnya, setuju lah aku untuk mengikuti dua hari acara kampus dengan suruhan dan permintaan khusus dari dia, yang sekarang kurindukan.
Malam itu, nyaman rasaku saat bisa tidur pukul 10.29 malam disamping pundaknya. Membiacarakan mengenai planning akan berjalan-jalan setelah dia, yang sekarang kurindukan, sudah pulih, dia bilang, mau membelikan jersey basket yang baru.
29 September 2018.
Hari dimana aku harus pergi. Pergi meninggalkan dua hari ku tanpa memegang tangan dan bersandar dibahunya. Masih terfikir untuk menetap, membatalkan keikutsertaan. Tapi, dia, yang sekarang kurindukan, bilang begini “Jalan aja, ditungguin sampe kamu pulang. Sana, Hati-hati, gak makan mie ya.”
Dilema masih ada, tetapi dia berkata dan meminta A, aku akan lakukan dan menuruti A juga. Pamit, salam, cium, peluk, dan dia, yang sekarang kurindukan, bilang begini, “Hati-hati, cepet pulang ya,..”
Hari itu, untuk pertama kalinya, selama 18 tahun, aku akhirnya mengenal dimana dan bagaimanakah rasanya datang ke Puncak.
Entah merasa senang atau apa, tidak lupa seperti biasanya, kukirim foto ke wattsapp dia.
Foto ku selama perjalanan, keadaan selama perjalanan, bahkan foto selfie bareng Binta. Aku banyak cerita, banyak menulis pesan.
Tetapi, sedih.
Dibaca, namun tidak dibalas.
30 September, September terakhir, 2018.
Pukul 05.43 pagi, setelah ibadah berjamaah.
Aku mengirim pesan, mengabari kalau disana akan sering makan mie goreng.
Aku juga mengabari, kalau disana aku kenal banyak teman.
Aku banyak mengirim foto selagi kegiatan di Puncak.
Biasanya dia, yang sekarang kurindukan, selalu balas, bahkan tanpa dikirimi pesan pun, dia akan mengirim sebuah pesan. Walaupun itu cuma emoji.
Tetapi, kali ini, gak tau kenapa, sedih.
Dibaca, namun tidak dibalas.
Pukul 09.10 pagi, setelah makan berjamaah.
Aku mengirim pesan, mengabari kalau aku sudah makan, iya, makan mie goreng.
Aku juga mengabari, kalau aku sudah kenal banyak teman.
Aku juga cerita, kalau aku belum mandi sejak haeri pertama karena ternyata di Puncak itu dingin.
Biasanya dia, yang sekarang kurindukan, selalu balas.
Pesan masuk di Wattsapp. Aku kira itu balasan dari dia, yang sekarang kurindukan.
Nop, ternyata, itu adikku.
Wattsapp :
12.01 “Kak, kakak pulang kapan?”
12.02 “Iya, hari ini pulang, tapi mungkin malem”
12.04 “Sekarangg aja pulangnya”
12.04 “Kenapa emang?”
Setelahnya, tidak ada lagi balasan.
Pukul 13.29 siang, setelah berbincang berjamaah.
Aku ingat, ingat sekali, disitu sudah pada berkumpul untuk memulai materi baru. Tapi aku?
Aku ke kamar, karena tante ku menelfon, mengabari kalau dia, yang sekarang kurindukan, pindah ruang rawat.
Masuk pesan foto dia, yang sekarang kurindukan, lewat wattsapp adikku.
Hatiku? Mulai runtuh. Melihat dia, sudah tidak ada senyum.
Adiku bilang, cepat pulang.
Pukul 13.40 siang, aku pulang.
Terhitung, sudah 1 setengah jam aku dijalan.
Ternyata begini, dan ini, alasan kenapa Ayahku enggan membawa keluarga ke Puncak.
Macet ya ternyata.
Aku ingat, saat dijalan, menahan diri supaya tetap tenang dan tergenang do’a. Ada yang menelfon, iya, tanteku.
Pukul 15.20, aku masih dijalan.
“Kak, udah dimana? Nanti langsung ya ke ruang Bougenvil.”
-“Iya, ini udah dijalan, Puncak macet banget sih!..”
Setelah mengabari tentang ruangan, tanteku ingin menutup telfon, dan aku ingin mematikan handphone. Tapi, kudengar, seketika banyak yang menangis, banyak yang memanggil nama dia, dan, kudengar, adikku menangis dan memanggil Ibu berkali-kali.
Disitu, aku faham.
Disitu, aku hancur.
Disitu, aku harus merelakan.
dan Disitu, aku tahu, kalau aku harus merelakan walau memang rasanya hancur.
Seketika, air didalam mata yang sudah kutahan selama ini, menjadi ingin turun bersama dengan harapan yang sudah kosong.
Harapanku sudah hilang, begitu juga hatiku. Sudah separuh dibawa pergi.
Seketika, semua rencana indah kalau dia sudah pulih, tiba-tiba terhapus.
Terhapus oleh rasa dan harapan yang tiba-tiba ikut pupus. Seketika, memori 18 tahun hidup bersama dia, yang sekarang kurindukan, menjadi tergores tinta hitam yang tiba-tiba harus menghilangkan dia secepat itu.
Kenapa cepat sekali pergi?
Aku belum foto wisuda.
Kenapa cepat sekali pergi?
Sebentar lagi, aku semester dua, lalu 3, lama-lama 8, dan segera lulus.
Kenapa cepat sekali pergi?
Nanti siapa yang sibuk mengambil gambar saat toga ku dipasangkan?
Kenapa cepat sekali pergi?
Aku belum melihat tangis banggamu.
Kenapa cepat sekali pergi?
Sebentar lagi, Ibu ulang tahun.
dan Kenapa cepat sekali pergi?
Aku sudah beli kado.
September terakhir. Dan akan selalu menjadi yang terakhir.
Setelah dia, yang sekarang kurindukan, sudah pergi, aku rindu.
Rindu membalas pesan wattsapp nya yang sampai sekarang belum ia balas.
Sudah sering, bahkan setiap saat, tetapi, tidak ada balasan, dan tidak akan pernah ada lagi balasan
Rindu, rindu sekali hadirnya.
Setiap Minggu pagi, membangunkan lalu menyuruh mandi.
Rindu, rindu sekali hadirnya.
Setiap Sabtu siang, mengajak pergi dan membawakan belanjaannya.
Rindu, rindu sekali hadirnya.
Setiap malam, sesaat belajar, dia, yang sekarang kurindukan, selalu bertanya “Kak, lagi belajar apa?”
Tetapi, mulai 30 September itu,
semua hilang.
Semua selesai.
Semua habis.
dan semua, harus kuhapus.
Rumah menjadi tempat dimana hadirmu masih selalu kuharapkan.
Rumah menjadi tempat dimana suaramu masih selalu kurindukan.
Rumah pula, yang menjadi tempat dimana sampai saat ini, aku masih ingin menunggumu pulang.
Tetapi, aku sadar.
Hadirmu sudah cukup.
Suaramu sudah kusimpan.
dan, Pulangmu, sudah kurelakan.
Terimakasih sudah bersabar selama 18 tahun,
Terimakasih sudah bersama selama 18 tahun,
Terimakasih sudah bertahan selama 18 tahun.
Terimakasih, sudah mau menungguku pulang,
dan, Selamat ulang tahun, Ibu❤️
✦MIDNIGHT SUN
✦MY GIRL(1991)
✦MONA LISA SMILE
MasyaAllah, aku ikut merasakan pas baca. Salam kenal khusnul dari jurnlistik 2016 uin
ReplyDelete