In

Berkelip dengan Bahasa #Antrofilosofi


    Dikala kita sebagai manusia memiliki hati yang selalu bertanya dan ingin meluapkan kata. Disitulah kita sangat butuh satu benang bukan hanya merah, namun beragam warna. Disitulah kita sangat mencari-cari, apa yang bisa membuat benang-benang tersebut dapat tersambung dengan elok nan indah sehingga dapat memadukan berbagai ragam fikiran menjadi satu jalur sutra yang sama. 
    Saat mentari mulai menebar hangat oranye, serta sejuknya embun sebekas malam menuju Sabtu rindu ingin menebar kisah yang sudah lama terhapus alur air yang tenang, bermula lah sebuah keinginan untuk menceritakannya kepada manusia disekitarmu. Disitulah tali komunikasi selalu ingin mengepakkan sayap perunggunya, disitulah kita, sebagai manusia, butuh satu dahan untuk bersandar, butuh satu atap untuk berteduh, dan butuh satu alas untuk berkomunikasi. Sebutlah ia, B A H A S A. 
     Satu dengan yang lain, yang lain dengan yang satu, atau bahkan yang satu dengan yang ingin bersatu, pasti butuh paparan komunikasi yang sama. Saat sebuah perahu layar butuh tuan untuk mengarahkan kemana perahu tersebut harus berkelana, sama halnya seperti bahasa yang tak mungkin lepas dari halusnya citra sebuah kotak biru tua berisi komunikasi. 
      Berbahasa dengan baik, akan mengukirkan pula bagaimana sosok idealis yang sedang berbicara. Begitulah kata sebagian orang. Jadi, tamparlah dirimu untuk bisa berbahasa yang lembut selembut kabut, halus serta lurus, dan jelas seperti beningnya air segar didalam gelas. Karena rindu seseorang akan dapat terus menggebu hanya dengan kerinduannya terhadap suara dan gayamu mengeluarkan bahasa.
    Sebuah basa basi klasik yang mengatakan tak kenal maka tak akan sayang, berbading terbalik dengan sebuah basa basi unik yang mengatakan tak berbahasa bukan berarti tak berkomunikasi. Bagaimana indahnya keberagaman kreasi cipta Tuhan yang tak hanya menjadikan kita manusia yang berbincang dengan manisnya lisan, tetapi Dia memberikan kesempatan untuk kita berbincang dengan liuk indah gerakan tubuh dan jentik cantik jari yang jangan hanya dipakai untuk menggelitik. Beruntung sekali bagi kalian yang fasih berbincang dengan manis dan pahit sebuah lisan, tetapi, tidak murung bagi mereka yang fasih berbincang dengan keindahan isyarat tubuh. 
     Tak peduli bagaimana cara kita melebarkan kertas perbincangan, tak perduli pula bagaimana rencana kita untuk berusaha menghadirkan sebuah perbincangan hangat sehangat coklat mata indahnya, tetapi, pedulilah dengan bagaimana kita mengatur tutur kerlip indah sebuah bahasa yang tak sepantasnya kita kotori dengan debu jalanan atau dengan keringat luka yang malah membuat sebuah bahasa cinta menjadi basa basi yang sia-sia.
    Berbahasa bukan hanya sekedar hanya melemparkan kata-kata, bukan juga hanya berusaha untuk tidak terbata-bata. Namun berbahasa, harus terus memperhatikan makna, mengingat semesta, dan berbalut helai lembut sebuah rasa. Walau kadang kita lupa, bagaimana sebuah kata dan bahasa dapat terpendam erat bak tali yang diikat mati disebuah telaga. Lantas, jadikanlah bahasamu menjadi bahan bagi orang lain untuk merindu dan mengenang suaramu didalam rumah getar disamping kepala. Dan biarkanlah dirimu terkenang indah dimata mereka, bak bintang yang sedang Berkelip dengan Bahasa.

  
                                                            
                                            
                                -Salam dari lembutnya sebuah kabut.

Related Articles

0 coment�rios:

Post a Comment