In

Who is Wilhelm Wundt? #Antroeducation


            Wilhelm Maximilian Wundt or Wilhelm Wundt as known as the Father of Experimental Psychology. He was born on August 16th 1832 in Neckarau, Germany but in 1836, his family moved to Baden Wuttenberg. His Father, Friedrich Muller, was a Lutheran Minister. Wundt lived in Germany and he was a German Psychologist who wrote many books about Psychology.
To expand his education, he went to college and he attended the University of Tubingen in 1851 and after one year, he moved to the University of Heidelberg and receiving his medical degree in 1856. In 1858 or two years later after he received his medical degree, Hermann von Helmholtz received a call to Heidelberg as a professor of Physiology and Wundt became his assistant until 1865. Wilhelm Wundt was also attending the University of Berlin and learned about Physiology for one season. So he got a medical degree but also capable on Physiology.
            When Wundt became an assistant for Helmholtz, Wundt wrote the Contributions to the Theory of Sense Perception(Beitrage zur Theorie der Sinneswahmehmung) and after work with Helmholtz he wrote the Principles of Physiological Psychology.  All of his book remains to his day one of the most influential in Psychology. Wundt joined the University of Leipzig in 1875. In 1879, for the first time, he found the laboratory especially for Experimental Psychology. So he is the founder of the first Psychology Laboratory at the University of Leipzig and he contributed so much to the development of Psychology.
            The Laboratory was used primarily by German Philosophers and Psychology student. Because his digree was medical, he started with Physiology and study about how different stimuli causes different sensations. And he created Voluntarism, the process of organizing the mind as known as and Experimental Psychology which studies the mind through experiments.
Between in 1863 and 1864, Wilhelm Wundt published Lectures on the Mind of Humans and Animals. In 1881, Wundt wrote Philosopical Studies which is the first journal of Psychology. And Psychology reported that he trained 186 graduate students and 116 in Psychology and the most commonly known is Edward Titchener. Psychology reported too that Wundt separated Psychology and Physiology and analyzing the workings of the mind in a more structured way. Wundt also brought to light a new perspective and helped others gain more knowledge. In addition, he has done so much research and put in so much time in his 65 years long career. Recorded from the Standford Encyclopedia of Philosophy, it is estimated that he has produced 53.000 pages of work. Relating back to psychology, physiology, history, philosophy, and so much more. 
Wilhelm Wundt was the very beginning of Psychology, and he is the founder of the Psychology Laboratory so that’s why we called him as the Father of Psychology. There’s a lot of his important role in Psychology, and of course because of him, we can learned and know more about Psychology. Wilhelm Wundt passed away(died) on August 31th 1920 but his soul will always stay in a blood of Psychology.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In

Berkelip dengan Bahasa #Antrofilosofi


    Dikala kita sebagai manusia memiliki hati yang selalu bertanya dan ingin meluapkan kata. Disitulah kita sangat butuh satu benang bukan hanya merah, namun beragam warna. Disitulah kita sangat mencari-cari, apa yang bisa membuat benang-benang tersebut dapat tersambung dengan elok nan indah sehingga dapat memadukan berbagai ragam fikiran menjadi satu jalur sutra yang sama. 
    Saat mentari mulai menebar hangat oranye, serta sejuknya embun sebekas malam menuju Sabtu rindu ingin menebar kisah yang sudah lama terhapus alur air yang tenang, bermula lah sebuah keinginan untuk menceritakannya kepada manusia disekitarmu. Disitulah tali komunikasi selalu ingin mengepakkan sayap perunggunya, disitulah kita, sebagai manusia, butuh satu dahan untuk bersandar, butuh satu atap untuk berteduh, dan butuh satu alas untuk berkomunikasi. Sebutlah ia, B A H A S A. 
     Satu dengan yang lain, yang lain dengan yang satu, atau bahkan yang satu dengan yang ingin bersatu, pasti butuh paparan komunikasi yang sama. Saat sebuah perahu layar butuh tuan untuk mengarahkan kemana perahu tersebut harus berkelana, sama halnya seperti bahasa yang tak mungkin lepas dari halusnya citra sebuah kotak biru tua berisi komunikasi. 
      Berbahasa dengan baik, akan mengukirkan pula bagaimana sosok idealis yang sedang berbicara. Begitulah kata sebagian orang. Jadi, tamparlah dirimu untuk bisa berbahasa yang lembut selembut kabut, halus serta lurus, dan jelas seperti beningnya air segar didalam gelas. Karena rindu seseorang akan dapat terus menggebu hanya dengan kerinduannya terhadap suara dan gayamu mengeluarkan bahasa.
    Sebuah basa basi klasik yang mengatakan tak kenal maka tak akan sayang, berbading terbalik dengan sebuah basa basi unik yang mengatakan tak berbahasa bukan berarti tak berkomunikasi. Bagaimana indahnya keberagaman kreasi cipta Tuhan yang tak hanya menjadikan kita manusia yang berbincang dengan manisnya lisan, tetapi Dia memberikan kesempatan untuk kita berbincang dengan liuk indah gerakan tubuh dan jentik cantik jari yang jangan hanya dipakai untuk menggelitik. Beruntung sekali bagi kalian yang fasih berbincang dengan manis dan pahit sebuah lisan, tetapi, tidak murung bagi mereka yang fasih berbincang dengan keindahan isyarat tubuh. 
     Tak peduli bagaimana cara kita melebarkan kertas perbincangan, tak perduli pula bagaimana rencana kita untuk berusaha menghadirkan sebuah perbincangan hangat sehangat coklat mata indahnya, tetapi, pedulilah dengan bagaimana kita mengatur tutur kerlip indah sebuah bahasa yang tak sepantasnya kita kotori dengan debu jalanan atau dengan keringat luka yang malah membuat sebuah bahasa cinta menjadi basa basi yang sia-sia.
    Berbahasa bukan hanya sekedar hanya melemparkan kata-kata, bukan juga hanya berusaha untuk tidak terbata-bata. Namun berbahasa, harus terus memperhatikan makna, mengingat semesta, dan berbalut helai lembut sebuah rasa. Walau kadang kita lupa, bagaimana sebuah kata dan bahasa dapat terpendam erat bak tali yang diikat mati disebuah telaga. Lantas, jadikanlah bahasamu menjadi bahan bagi orang lain untuk merindu dan mengenang suaramu didalam rumah getar disamping kepala. Dan biarkanlah dirimu terkenang indah dimata mereka, bak bintang yang sedang Berkelip dengan Bahasa.

  
                                                            
                                            
                                -Salam dari lembutnya sebuah kabut.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments

In

Happiness Is... #Antroloveandcare


 Happiness, satu baris kata yang memiliki 9 huruf pendamping. Hilang satu huruf saja, kata tersebut sudah berubah arti, atau bahkan, tidak ada sama sekali arti dari kata tersebut. Sama rasanya seperti bagaimana arti “mereka” untuk dirimu. Saat salah satu dari “mereka” hilang, mungkin kamu akan merasa ada sebuah perubahan yang terjadi, atau bahkan merasa kosong seperti tidak ada yang hadir dihidupmu. “Mereka” bisa saja kamu artikan sebagai orang-orang yang hadir membawa sebuah warna-warni dan cerita indah yang mereka rela berikan secara cuma cuma untuk kamu. “Mereka” juga bisa kamu artikan sebagai orang-orang yang menghadirkan lekuk setengah lingkaran di bibirmu, atau yang biasa kamu sebut itu adalah sebuah senyuman. Dan, “mereka” juga lah, yang pastinya memberi dan menghadirkan sebuah kata yang semua orang pasti inginkan, yaitu, Happiness.
   Banyak sekali masyarakat disekitar kita, atau bahkan kamu sendiri mengalami hal ini. Saat kebahagiaan bukan lagi urusan “Bagaimana cara supaya aku bisa merasa bahagia?” tetapi berubah menjadi “Bagaimana cara supaya dia, atau mereka bisa merasa bahagia karena aku?”. Ya, benar, semudah dan sesimple itu, kita dapat merubah sebuah pernyataan menjadi sebuah pertanyaan. Saat “Inilah yang membuat ku bahagia” berubah menjadi “Apa ya yang bisa ku lakukan supaya membuat mereka bahagia?”. Tidak muluk-muluk hanya dengan “status spesial” antara kamu dan "temanmu", tetapi hal ini sangat berlaku untuk orang sekitar, baik keluarga, sahabat, lingkungan masyarakat, atau bahkan orang yang sama sekali tidak kamu kenal sebelumnya. Karena sungguh, kebahagiaan datang bukan karna disengaja, namun kebahagiaan datang karena memang itulah waktumu dan itulah hak mu.
   Kehidupan kamu dalam sehari, seminggu, sebulan, atau setahun, pasti telah melalui banyak sekali cerita, baik sebuah cerita manis, masam, pahit, atau bahkan sebuah cerita hambar yang sudah diberi bumbu pun akan tetap menjadi hambar. Dalam sepanjang bentangan waktu hidupmu itu juga, ada kala dimana kamu merasa sedih karna ada sesuatu hal yang pedih, ada kala dimana kamu merasa kalah karena kamu mengalah, ada kala dimana kamu menangis karna masalah yang tak habis-habis, dan ada kala dimana kamu merasa sangat bahagia karena ada kehadiran “mereka”. Merasa kalah karena kamu mengalah pun itu kadang kamu didasari kepada pertanyaan diatas tadi, “Apa yang bisa kulakukan supaya membuat mereka bahagia?”.
    Tak bisa kamu pungkiri, itu memang sulit. Bukan hanya sulit, tapi jelas, itu sangat sulit. Saat kamu sendiri bingung bagaimana dapat mendapatkan sumber kebahagiaan yang tak akan habis, malah kamu harus mencari cara untuk membuat mereka merasakan dan mendapatkan sumber kebahagiaan tersebut. Entah itu sampai harus membuat dirimu terus berkutat dengan jam terbang dalam kesedihan atau membuat dirimu terinjak dan terbanting perasaan yang kamu sendiri sebenerarnya tidak ingin merasakan hal tersebut. 
     Tetapi, coba kalian fikirkan secara matang dan lantang. Bukan hanya satu dua orang yang ada disekitar keseharian dan kehidupanmu. Pasti ada berpuluh, beratus, atau bahkan beribu orang yang kamu temui itu dapat kamu buat bahagia dengan caramu sendiri. Dan itupun bukan hanya sistem satu arah, dimana kamu memberi namum tidak mendapatkan balasan. Tetapi, hal itu merupakan sistem dua arah, dimana kamu memberi, kamu juga akan mendapatkannya. Let's say it's all about Give and Take, or maybe Take and Give. Disaat kamu memberikan sebuah kebahagiaan, mencarikan mereka sebuah kebahagiaan, atau bahkan mengorbankan kebahagiaan mu demi mereka, hukum alam pun akan terjadi. Mereka, juga akan melakukan hal yang sama, dengan cara mereka, dengan jalan mereka, dan tentu saja, dengan waktu yang tepat dan pengalaman yang hebat.
     Selain sulit, itu juga pasti berat. Berat dan kadang membuatmu terjerat. Terjerat sebuah keharusan yang sangat erat untuk membuat orang lain disekitarmu bahagia dan merasa nyaman untuk selalu berada disekitarmu. Tetapi, itulah hidup. Sama hal nya seperti ada sekumpulan batu, saat kebanyakan orang lebih memilih batu yang ringan untuk diangkat dan membiarkan batu yang berat, disitu mereka tidak menyadari, bahwa batu ringan hanyalah perak, dan batu berat ternyata adalah sebongkah emas. Jadi, saat kamu mendapatkan suatu masa atau masalah yang berat, tahan secara perlahan dan cobalah jangan langsung kau hempaskan, karena sesungguhnya, disitulah nikmat hebat dariTuhan yang sedang merencanakan sebuah kebahagiaan, namun secara perlahan.
   Bukan hanya kamu, semua orang pun pasti sangat menginginkan sebuah kebahagiaan hadir disekililing mereka, muncul secara bergantian namun tak terhapuskan. Bukan hanya hadir sesaat karena merasa tersesat, tetapi hadir dengan rasa yang mantap untuk menetap. Kebahagiaan semu pun kadang sering kita rasakan, sering kita temui, atau bahkan sedang kalian cari-cari diatas tanah berpaparkan muka bumi. Banyak sekali masyarakat yang tidak menyadari hal tersebut. Bukan karena buta atau tertutup dukanya sebuah luka, namun mereka hanya benar-benar tidak menyadari kebahagiaan yang mereka rasakan hanyalah hal yang tabu nan semu. Bukan hal nyata dan bukan pula sebuah fakta. Seperti halnya sebuah harta, tahta, dan juga sebuah sosialita. Mereka meninggalkan keluarga karena merasa harta yang telah memberi mereka sebuah cinta, mereka berani meninggalkan “wanita-nya” semata-mata karena tahta yang tak seberapa, dan mereka juga rela meninggalkan semesta hanya karena sosialita semata. Itulah, bagaimana kebahagiaan semu dapat membuat manusia menjadi sebuah mahluk beraga dan berakal, namun bertatapkan hidup dengan rasa sia-sia.
    Lalu, sekarang, bagaimana cara kita supaya mendapatkan dan mencari sebuah kebahagiaan yang nyata, fakta, dan bukan hanya sebuah cerita?.Caranya adalah dengan selalu berusaha untuk memberikan rasa tulus, kasing sayang, selalu memberi, dan jangan lupa,kamu juga harus terus berusaha menghargai diri sendiri. Respect your self as good as possible. 
    Kebahagiaan yang datang untuk menetap, memang tidak semudah dengan kebahagiaan yang datang untuk bersinggah sejenak. Tidak semudah kamu membalikan telapak tangan, tidak pula semudah kamu membalikan kata bahagia menjadi sebuah perasaan yang sia-sia. Ada saat kamu harus mengalahkan egomu demi melihat orang yang kamu sayangi merasa nyaman dan bahagia untuk berada dizona hidupmu. Ada saat kamu harus mengalahkan keinginanmu demi melihat keinginan “mereka” dapat terlaksana. Ada saat kamu membuang masalahmu demi terihat tegar didepan mereka yang ingin selalu melihat senyumanmu. Walau dizamanmu hidup, kadang kamu harus terus berusaha untuk berpura-pura bahagia, karena dizamanmu pula, sebuah keseriusan hanya dianggap sebuah hal lelucon beralaskan bahan untuk bercanda yang sebenarnya tak patut untuk ditertawakan. Namun disitulah, sebuah fakta klasik dibalut kilauan kisah kasih yang tersimpan dalam kalimat “Aku bahagia saat melihat Kamu bahagia” bisa menjadi nyata, dab bukan hanya cerita yang dibuat-buat untuk menjadi nyata.


                                                                                                       -Salam kasih berbalut pedih.

Read More

Share Tweet Pin It +1

0 Comments