Happiness,
satu baris kata yang memiliki 9 huruf pendamping. Hilang satu huruf saja, kata
tersebut sudah berubah arti, atau bahkan, tidak ada sama sekali arti dari kata
tersebut. Sama rasanya seperti bagaimana arti “mereka” untuk dirimu. Saat salah
satu dari “mereka” hilang, mungkin kamu akan merasa ada sebuah perubahan yang
terjadi, atau bahkan merasa kosong seperti tidak ada yang hadir dihidupmu.
“Mereka” bisa saja kamu artikan sebagai orang-orang yang hadir membawa sebuah
warna-warni dan cerita indah yang mereka rela berikan secara cuma cuma untuk
kamu. “Mereka” juga bisa kamu artikan sebagai orang-orang yang menghadirkan
lekuk setengah lingkaran di bibirmu, atau yang biasa kamu sebut itu adalah
sebuah senyuman. Dan, “mereka” juga lah, yang pastinya memberi dan menghadirkan
sebuah kata yang semua orang pasti inginkan, yaitu, Happiness.
Banyak
sekali masyarakat disekitar kita, atau bahkan kamu sendiri mengalami hal ini.
Saat kebahagiaan bukan lagi urusan “Bagaimana cara supaya aku bisa merasa
bahagia?” tetapi berubah menjadi “Bagaimana cara supaya dia, atau mereka bisa
merasa bahagia karena aku?”. Ya, benar, semudah dan sesimple itu, kita dapat merubah
sebuah pernyataan menjadi sebuah pertanyaan. Saat “Inilah yang membuat ku
bahagia” berubah menjadi “Apa ya yang bisa ku lakukan supaya membuat mereka
bahagia?”. Tidak muluk-muluk hanya dengan “status spesial” antara kamu dan
"temanmu", tetapi hal ini sangat berlaku untuk orang sekitar, baik keluarga,
sahabat, lingkungan masyarakat, atau bahkan orang yang sama sekali tidak kamu
kenal sebelumnya. Karena sungguh, kebahagiaan datang bukan karna disengaja,
namun kebahagiaan datang karena memang itulah waktumu dan itulah hak mu.
Kehidupan
kamu dalam sehari, seminggu, sebulan, atau setahun, pasti telah melalui banyak
sekali cerita, baik sebuah cerita manis, masam, pahit, atau bahkan sebuah
cerita hambar yang sudah diberi bumbu pun akan tetap menjadi hambar. Dalam
sepanjang bentangan waktu hidupmu itu juga, ada kala dimana kamu merasa sedih
karna ada sesuatu hal yang pedih, ada kala dimana kamu merasa kalah karena kamu
mengalah, ada kala dimana kamu menangis karna masalah yang tak habis-habis, dan
ada kala dimana kamu merasa sangat bahagia karena ada kehadiran “mereka”.
Merasa kalah karena kamu mengalah pun itu kadang kamu didasari kepada
pertanyaan diatas tadi, “Apa yang bisa kulakukan supaya membuat mereka
bahagia?”.
Tak
bisa kamu pungkiri, itu memang sulit. Bukan hanya sulit, tapi jelas, itu sangat
sulit. Saat kamu sendiri bingung bagaimana dapat mendapatkan sumber kebahagiaan
yang tak akan habis, malah kamu harus mencari cara untuk membuat mereka merasakan dan
mendapatkan sumber kebahagiaan tersebut. Entah itu sampai harus membuat dirimu terus berkutat dengan jam terbang dalam kesedihan atau membuat dirimu terinjak dan terbanting perasaan yang kamu sendiri sebenerarnya tidak ingin merasakan hal tersebut.
Tetapi, coba kalian fikirkan secara
matang dan lantang. Bukan hanya satu dua orang yang ada disekitar keseharian
dan kehidupanmu. Pasti ada berpuluh, beratus, atau bahkan beribu orang yang
kamu temui itu dapat kamu buat bahagia dengan caramu sendiri. Dan itupun bukan
hanya sistem satu arah, dimana kamu memberi namum tidak mendapatkan balasan.
Tetapi, hal itu merupakan sistem dua arah, dimana kamu memberi, kamu juga akan
mendapatkannya. Let's say it's all about Give and Take, or maybe Take and Give. Disaat kamu memberikan sebuah kebahagiaan, mencarikan mereka
sebuah kebahagiaan, atau bahkan mengorbankan kebahagiaan mu demi mereka, hukum
alam pun akan terjadi. Mereka, juga akan melakukan hal yang sama, dengan cara
mereka, dengan jalan mereka, dan tentu saja, dengan waktu yang tepat dan
pengalaman yang hebat.
Selain
sulit, itu juga pasti berat. Berat dan kadang membuatmu terjerat. Terjerat
sebuah keharusan yang sangat erat untuk membuat orang lain disekitarmu bahagia
dan merasa nyaman untuk selalu berada disekitarmu. Tetapi, itulah hidup. Sama
hal nya seperti ada sekumpulan batu, saat kebanyakan orang lebih memilih batu
yang ringan untuk diangkat dan membiarkan batu yang berat, disitu mereka tidak
menyadari, bahwa batu ringan hanyalah perak, dan batu berat ternyata adalah sebongkah emas. Jadi,
saat kamu mendapatkan suatu masa atau masalah yang berat, tahan secara
perlahan dan cobalah jangan langsung kau hempaskan, karena sesungguhnya, disitulah nikmat hebat dariTuhan yang sedang merencanakan sebuah kebahagiaan, namun secara perlahan.
Bukan
hanya kamu, semua orang pun pasti sangat menginginkan sebuah kebahagiaan hadir
disekililing mereka, muncul secara bergantian namun tak terhapuskan. Bukan hanya hadir sesaat karena merasa tersesat, tetapi
hadir dengan rasa yang mantap untuk menetap. Kebahagiaan semu pun kadang sering
kita rasakan, sering kita temui, atau bahkan sedang kalian cari-cari diatas tanah berpaparkan muka bumi. Banyak
sekali masyarakat yang tidak menyadari hal tersebut. Bukan karena buta atau tertutup dukanya sebuah luka, namun mereka hanya benar-benar tidak menyadari
kebahagiaan yang mereka rasakan hanyalah hal yang tabu nan semu. Bukan hal
nyata dan bukan pula sebuah fakta. Seperti halnya sebuah harta, tahta, dan juga
sebuah sosialita. Mereka meninggalkan keluarga karena merasa harta yang telah
memberi mereka sebuah cinta, mereka berani meninggalkan “wanita-nya”
semata-mata karena tahta yang tak seberapa, dan mereka juga rela meninggalkan semesta hanya
karena sosialita semata. Itulah, bagaimana kebahagiaan semu dapat membuat manusia
menjadi sebuah mahluk beraga dan berakal, namun bertatapkan hidup dengan rasa sia-sia.
Lalu,
sekarang, bagaimana cara kita supaya mendapatkan dan mencari sebuah kebahagiaan
yang nyata, fakta, dan bukan hanya sebuah cerita?.Caranya
adalah dengan selalu berusaha untuk memberikan rasa tulus, kasing sayang,
selalu memberi, dan jangan lupa,kamu juga harus terus berusaha menghargai diri sendiri. Respect your self as good as possible.
Kebahagiaan yang
datang untuk menetap, memang tidak semudah dengan kebahagiaan yang datang untuk
bersinggah sejenak. Tidak semudah kamu membalikan telapak tangan, tidak pula semudah kamu membalikan kata bahagia menjadi sebuah perasaan yang sia-sia. Ada saat kamu harus mengalahkan egomu demi melihat orang
yang kamu sayangi merasa nyaman dan bahagia untuk berada dizona hidupmu. Ada saat
kamu harus mengalahkan keinginanmu demi melihat keinginan “mereka” dapat
terlaksana. Ada saat kamu membuang masalahmu demi terihat tegar didepan mereka
yang ingin selalu melihat senyumanmu. Walau dizamanmu hidup, kadang kamu harus terus berusaha untuk berpura-pura bahagia, karena dizamanmu pula, sebuah keseriusan hanya dianggap sebuah hal lelucon beralaskan bahan untuk bercanda yang sebenarnya tak patut untuk ditertawakan. Namun disitulah, sebuah fakta klasik dibalut kilauan kisah kasih yang
tersimpan dalam kalimat “Aku bahagia saat melihat Kamu bahagia” bisa menjadi
nyata, dab bukan hanya cerita yang dibuat-buat untuk menjadi nyata.
-Salam kasih berbalut pedih.